Kamis, 27 Desember 2012

Perkawinan Yang Dilarang Adat Batak Toba


Perkawinan bagi masyarakat Batak khususnya orang Toba adalah hal yang wajib untuk dilaksanakan, dengan menjalankan sejumlah ritual perkawinan adat Batak. Meski memiliki keunikan dan ragam keistimewaan yang terkandung dalam acara tersebut, upacara perkawinan adat Batak Toba juga terkenal sangat “merepotkan” jika kita bandingkan dengan upacara perkawinan di daerah lainnya di Indonesia.
Dalam perkawaninan adat Batak Toba juga ada aturan-aturan tertentu yang harus ditaati, dan hukumannya sangat tegas yang dianut oleh orang Batak sejak dulu kala. Dibeberapa daerah dan aturan yang berlaku yang dilaksankan oleh penatua masing-masing daerah berbeda-beda, ada yang dibakar hidup-hidup, dipasung, dan buang atau diusi dari kampung serta dicoret dari tatanan silsilah keluarga. Meskipun era saat ini beberapa aturan yang diberlakukan sejak dahulu kala, sebagian orang Batak kini sudah ada melanggarnya.
Berikut ini 5 Larangan dalam Perkawinan Adat Batak Toba yang dirangkum oleh Gobatak:
Ilustrasi: Perkawinan terlarang adat batak toba

Namarpandan

Namarpadan/ padan atau ikrar janji yang sudah ditetapkan oleh marga-marga tertentu, dimana antara laki-laki dan perempuan tidak bisa saling menikah yang padan marga. Misalnya marga-marga berikut ini:
1.Hutabarat & Silaban Sitio
2.Manullang & Panjaitan
3.Sinambela & Panjaitan
4.Sibuea & Panjaitan
5.Sitorus & Hutajulu (termasuk Hutahaean, Aruan)
6.Sitorus Pane & Nababan
7.Naibaho & Lumbantoruan
8.Silalahi & Tampubolon
9.Sihotang & Toga Marbun (termasuk Lumbanbatu, Lumbangaol, Banjarnahor)
10.Manalu & Banjarnahor
11.Simanungkalit & Banjarnahor
12.Simamora Debataraja & Manurung
13.Simamora Debataraja & Lumbangaol
14.Nainggolan & Siregar
15.Tampubolon & Sitompul
16. Pangaribuan & Hutapea
17. Purba &  Lumbanbatu
18. Pasaribu & Damanik
19.Sinaga Bonor Suhutnihuta & Situmorang Suhutnihuta
20.Sinaga Bonor Suhutnihuta & Pandeangan Suhutnihuta

Namarito

Namarito (ito), atau bersaudara laki-laki dan perempuan khusunya oleh marga yang dinyatakan sama sangat dilarang untuk saling menikahi. Umpanya seprti parsadaan Parna (kumpulan Parna), sebanyak 66 marga yang terdapat dalam persatuan PARNA. Masih ingat dengan legenda Batak “Tungkot Tunggal Panaluan“? Ya, disana diceritakan tentang pantangan bagi orangtua yang memiliki anak “Linduak” kembar laki-laki dan perempuan. Anak “Linduak” adalah aib bagi orang Batak, dan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, kedua anak kembar tersebut dipisahkan dan dirahasiakan tentang kebeadaan mereka, agar tidak terjadi perkawinan saudara kandung sendiri.

Dua Punggu Saparihotan

Dua Punggu Saparihotan artinya adalah tidak diperkenankan melangsungkan perkawinan antara saudara abang atau adik laki-laki marga A dengan saudara kakak atau adik perempuan istri dari marga A tersebut. Artinya kakak beradik laki-laki memiliki istri yang ber-kakak/ adik kandung, atau 2 orang kakak beradik kandung memiliki mertua yang sama.

Pariban Na So Boi Olion

Ternyata ada Pariban yang tidak bisa saling menikah, siapa dia sebenarnya? Bagi orang Batak aturan/ ruhut adat Batak ada dua jenis untuk kategori Pariban Na So Boi Olion, yang pertama adalah Pariban kandung hanya dibenarkan “Jadian” atau menikah dengan satu Pariban saja. Misalnya 2 orang laki-laki bersaudara kandung memiliki 5 orang perempuan Pariban kandung, yang dibenarkan untuk dinikahi adalah hanya salah satu dari mereka, tidak bisa keduanya menikahi pariban-paribannya. Yang kedua adalah Pariban kandung/ atau tidak yang berasal dari marga anak perempuan dari marga dari ibu dari ibu kandung kita sendiri. Jika ibu yang melahirkan ibu kita ber marga A, perempuan bermarga A baik keluarga dekat atau tidak, tidak diperbolehkan saling menikah.

Marboru Namboru/ Nioli Anak Ni Tulang

Larangan berikutnya adalah jika laki-laki menikahi boru (anak perempuan ) dari Namboru kandung dan sebaliknya, jika seorang perempuan tidak bisa menikahi anak laki-laki dari Tulang kandungnya.

Peribahasa Suku Batak

Peribahasa (1) 

Adong na tuat sian dolok 
Adong na nangkok sian toruan 
Adong na ro sian habinsaran 
Adong na sian hasundutan 
Manumpak ma Debata 
Dilehon di hamu pasupasuan 

TERJEMAHANNYA: 
Ada yang turun dari gunung 
Ada yang naik dari hilir
Ada yang datang dari timur
Ada dari arah barat
Semoga Tuhan memberi berkat
Diberi kepada kamu doa dan restu 


Peribahasa (2) 

Aek godang do aek laut 
Dos ni roha do sibaen nasaut 

TERJEMAHANNYA: 
Air sungai air laut 
Kesepakatan hati membuat semua terlaksana 


Peribahasa (3) 

Ampapaga dolok 
Ampapaga sibuluan 
Unang hita marbada 
Ai hita do marsogot hita haduan 

TERJEMAHNNYA: 
Ampapaga gunung 
Ampapaga sibuluan 
Jangan kita bertengkar 
Karena kita besok kita pula lusa 


Peribahasa (4) 

Anduhur martutu 
Diatas ni Purbatua 
Sai sinur ma pinahan 
Gabe na niula 

TERJEMAHANNYA: 
Terkukur berbunyi bersiul 
Diatas Purbatua 
Semoga ternak banyak keturunan 
Begitu pula pertanian yang dikerjakan 


Peribahasa (5) 

Antajau haludi 
Tu pining na mongkol mata 
Sahalak pe mandok nauli 
Luhut ma hita nampunasa 

TERJEMAHANNYA: 
Jambu kelutuk yang sudah masak 
Buah pinang yang setengah tua 
Walau seorang yang mengucapkan kata - kata indah 
Semua kita yang memilikinya 


Peribahasa (6) 

Ansimun sada holbung 
Pege sangharimbang 
Menimbung rap tu toru 
Mangangkat rap tu ginjang 

TERJEMAHANNYA: 
Ketimun satu lobang 
Jahe satu bongkolan 
Meloncat sama ke bawah 
Meloncat sama ke atas 


Peribahasa (7) 

Bagot na ganjang do ho 
Marbulung di dangkana 
Na denggan maruhum do ho 
Jala na denggan marisara 

TERJEMAHANNYA: 
Engkau adalah enau yang panjang 
Berdaun pada tangkainya 
Engkau berpegang pada hukum dengan baik 
Serta sesuai dengan ketentuan peraturan 


Peribahasa (8) 

Balintang ma pagabe 
Tumandanghon sitandoan 
Arinta ma gabe 
Molo masi paolo - oloan 

TERJEMAHANNYA: 
Balintang dan pagabe tempat sandar bertenun 
Alas kaki waktu bertenun 
Saatnya kita banyak anak 
Kalau saling seia - sekata 


Peribahasa (9) 

Disi si rungguk 
Disi si tata 
Ia disi hita juguk 
Disi Ompunta Debata 

TERJEMAHANNYA: 
Dimana ada si Rungguk 
Disitu ada si Tata 
Dimanapun kita duduk 
Disitu selalu Tuhan yang Maha Esa 


Peribahasa (10) 

Dolok martimbang hatubuan ni si marhorahora 
Di Debata na di ginjang do suhat - suhat ni hita jolam 

TERJEMAHANNYA: 
Dolok Martimbang tempat tumbuh si marhorahora
Di tangan Tuhan yang di sorga penilaian terhadap manusia 


Peribahasa (11) 

Eme sitambatua 
Parlinggoman ni siborok 
Luhut ma hita martua 
Debata ma na marorot 

TERJEMAHANNYA: 
Padi sitambatua 
Tempat bernaung cebong - cebong 
Semua kita bertuah 
Tuhan yang menjaga 


Peribahasa (12) 

Godang si butongbutong 
Otik si pir ni tondi 

TERJEMAHANNYA: 
Banyak membuat kenyang 
Sedikit memperkuat roh 


Peribahasa (13) 

Hodong do pahu 
Holi - holi sanghalia 
Ho do ahu 
Hita na marsada ina 

TERJEMAHANNYA: 
Pelepah ialah pakis 
Tulang - tulang satu ruas 
Engkau adalah aku 
Kita yang satu Bunda 


Peribahasa (14) 

Holong mangalap holong 

TERJEMAHANNYA: 
Kasih meraih kasih 


Peribahasa (15) 

Hapur di tagan do ahu 
Napuran di hallungan 
Naingot di padan do ahu 
ingot di paruhuman 

TERJEMAHANNYA: 
Saya bagai kapur di tempatnya 
Sirih di keranjang 
Saya selalu ingat akan perjanjian 
Ingat akan peraturan 


Peribahasa (16) 

Ia tambor bonana 
Rugun ma dohot punsuna 
Ia gabe maradong Hula - Hulana 
songon i ma nang dohot Boruna 


TERJEMAHANNYA: 
Kalau pokoknya subur 
Daunnyapun rimbun 
Kalau Hula - Hula kaya 
Demikian pula Borunya 


Peribahasa (17) 
Jolo suhat do anso poring
Dungi dope na boboion

TERJEMAHANNYA:
Lebih dahulu keladi baru keladi gatal
Baru setelah itulah yang dikatakan “boboion”

Artinya:
Jangan menunjukkan kekuatan dan memaksakan kehendak sendiri kepada orang lain

Peribahasa (18) 

Loting ma tomboman 
Marsaor batu hula 
Tondinta masingonggoman 
Jala gabe na ni ula 

TERJEMAHANNYA: 
Batu api di lobang tiang 
Bercampur batu cat 
Roh kita saling mengikat 
Lalu subur tanaman kita 


Pribahasa (19) 

Madabu batu tu binang na bolon 
jolo manguhum raja 
Disi pe asa tolonon panolon 

TERJEMAHANNYA: 
Batu jatuh ke sungai yang besar 
lebih dahulu raja menghukum 
Baru tersumpah diambil sumpahnya 


Pribahasa (20) 

Manuk na mangonsop pirana 
Manuk sabungan na mamargut anaknya 
Ingkon tiptipon do tuktukna 

TERJEMAHANNYA: 
Ayam yang menghisap telurnya 
Ayam jago yang mematuk anaknya 
mesti dipotong paruhnya 


Peribahasa (21) 

Mangungkor honong bosi 
Pora - pora di babana 
Marpungu angka dongan 
Masipaboa hatana 

TERJEMAHANNYA: 
Menyelam burung - burung pemakan ikan 
Ikan pora - pora di mulutnya 
Berkumpul para orang bersahabat 
Masing - masing menyampaikan pendapatnya/pikirannya 


Pribahasa (22) 
Marbou laho tu tapian
Batuk – batu laho tu bagas mandi

TERJEMAHANNYA:
Berseru waktu hendak ke tepian mandi
Batuk – batuk hendak masuk ke rumah

Artinya:
Jika akan melakukan sesuatu pekerjaan lebih dahulu dimusyawarahkan


Pribahasa (23) 

Mardangka ma dangkana 
Marranting ma rantingna 
Ia gabe ma amana 
Sai gabe ma nang anggina 

TERJEMAHANNYA: 
Cabang kayu bercabang 
Ranting kayu beranting 
Jika ayahnya banyak keturunan 
Semoga adiknya juga banyak keturunan 


Peribahasa (24) 

Martantan ma baringin 
Marurat jabi - jabi 
Mamora ma hita madingin 
Tumpahon ni Ompunta Mulajadi 

TERJEMAHANNYA: 
Pohon beringin berakar jantung 
Pohon jabi - jabi berakar serabut 
Semua kita kaya dan sentosa 
Berkat Tuhan yang Maha Esa 


Peribahasa (25) 

Metmet aekna metmet dengkena 
Balga aek balga dengkena 

TERJEMAHANNYA: 
Kecil sungai kecil ikannya 
Besar sungai besar ikannya 


Peribahasa (26) 

Metmet do hapur lunsut 
Dijujung do uluna 

TERJEMAHANNYA: 
Capung yang paling kecilpun 
Kepalanya selalu diangkat 


Peribahasa (27) 

Molo hombar tu auga 
Hombar ma tu gagatan 

TERJEMAHANNYA: 
Kalau sesuai dengan kalung kerbau 
Sesuai dengan tempat makan rumput 


Peribahasa (28) 

Na tiniopbatahi 
Batahi pamarai 
Sai sauduran satahi 
Angka na marhaha - maranggi 

TERJEMAHANNYA: 
Tongkat yang kita pegang 
Tongkat mengiringi ke kandang 
Semoga seia - sekata 
Orang yang berabang - beradik (bersaudara) 


Peribahasa (29) 

Napuran tano - tano 
Na sinuan di onan 
Manumpak Debata 
Di paganda parbinotoan 

TERJEMAHANNYA: 
Sirih tanah 
yang ditanam di pekan 
Tuhan memberkati 
Ditambahi pengetahuan 


Peribahasa (30) 

Rata pe bulung ni salak 
Rataan do bulung ni sitorop 
Uli pe hata sahalak 
Ulian do hata torop 

TERJEMAHNNYA: 
Walau hijau daun salak 
Lebih hijau daun sitorop 
Memang baik pendapat satu orang 
Lebih baik pendapat banyak orang 


Peribahasa (31) 
Rim ni tahi do gogona
Rantosna do tajomna 


TERJEMAHANNYA:
Kebulatan mufakatlah yang kuat
Sistemnya (taktiknya) – lah tajamnya

Artinya : Pada persatuan dan kesatuan terletak kekuatan



Peribahasa (32) 

Rumah ijuk di jolo ni sopo gorga 
Asi ma roha ni Amanta Debata 
Sai dilehon ma dihamu 
Anak na bisuk dohot boru namarroha 

TERJEMAHANNYA: 
Rumah beratap ijuk di depan lumbung yang berukir 
Tuhan Allah berbelas kasihan 
Semoga diberi kepada kalian 
Putera yang cerdik dan puteri yang bijaksana 


Peribahasa (33) 

Simbora gukguk 
Sai mamora ma hita luhut 

TERJEMAHANNYA: 
Tembaga menumpuk 
Semoga kita semua kaya - raya 

Peribahasa (34) 
Songon bayo pangkejei
Lomlom pangkal igungna

TERJEMAHANNYA:
Bagai laki – laki dewasa pendamar
Hitam pangkal hidungnya

Artinya:
Orang yang berletih – lelah mengerjakan pekerjaan demi kepentingan orang banyak


Peribahasa (35) 
Songon siapor lunjung
Nijunjung suada ulu
Niporsan suada abara 


TERJEMAHANNYA:
Bagaikan belalang lonjong
Menjunjung tiada kepala
Memikul tiada bahu


Artinya:
Rela mempertanggunggungjawabkan suatu tugas demi kepentingan yang lebih besar


Peribahasa (36) 

Tinutung tu api 
Pinatuba songon soban 
Naung tinuptup ni tahi 
Unang be masisolsolan 

TERJEMAHANNYA: 
Dibakar ke api 
Diatur bagai kayu 
Yang sudah disetujui bersama 
Jangan saling menyesali 


Peribahasa (37) 

Tingko ma inggir - inggir 
Tingko rata - rata 
Pasu - pasu angka nauli 
Pasauthon Amanta Debata 

TERJEMAHANNYA: 
Inggir - inggir yang bulat 
Yang bulat dan hijau 
Semua berkat yang indah 
Tuhan - lah yang memberikan 


Peribahasa (38) 

Tonggi ma sibahut 
Tabo ma pora - pora 
Gabe ma hita luhut 
Jala sude ma hita mamora 

TERJEMAHANNYA: 
Ikan lele rasanya manis 
Ikan pora - pora rasanya enak 
Kita semua banyak keturunan 
Lalu hendaknya kita semua kaya 


Peribahasa (39) 

Tubu unte dohot durina 
Tubu jolma dohot ugarina 

TERJEMAHANNYA: 
Tumbuh jeruk dengan durinya 
Lahir manusia dengan suratannya 


Peribahasa (40) 

Unang sumuan dulang 
Mangaithon jabi - jabi 
Unang mambahen na so uhum 
Mangulahon na so jadi 

TERJEMAHANNYA: 
Jangan menanam dulang 
Menarik beringin jabi - jabi 
Jangan berbuat yang tidak patut 
Mengerjakan yang tidak pantas 


Peribahasa (41) 
Uhum sipangan anak
Uhum sipangan boru

TERJEMAHANNYA:
Perintah berlaku kepada anak laki – laki
Perintah berlaku juga kepada anak perempuan

Artinya:
Menempatkan kepentingan umum diatas kepentingan golongan atau kelompok

Falsafah Budaya Batak Dalam Adat Dalihan Natolu

Kalau diartikan langsung “Dalihan Natolu” adalah “Dalihan” artinya sebuah tungku yang dibuat dari batu, sedangkan “Dalihan Natolu” ialah tungku tempat memasak yang diletakkan diatas dari tiga batu. Ketiga dalihan yang dibuat berfungsi sebagai tempat tungku tempat memasak diatasnya. Dalihan yang dibuat haruslah sama besar dan diletakkan atau ditanam ditanah serta jaraknya seimbang satu sama lain serta tingginya sama agar dalihan yang diletakkan tidak miring dan menyebabkan isinya dapat tumpah atau terbuang.
Dulunya, kebiasaan ini oleh masyarakat Batak khususnya Batak Toba memasak di atas tiga tumpukan batu, dengan bahan bakar kayu. Tiga tungku jika diterjemahkan langsung dalam bahasa Batak Toba disebut juga dalihan natolu. Namun sebutan dalihan natolu paopat sihalsihal adalah falsafah yang dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat Batak.
Sehari-hari alat tungku merupakan bagian peralatan rumah yang paling vital untuk memasak. Makanan yang dimasak baik makanan dan minuman untuk memenuhi kebutuhan hidup anggota keluarga. Biasanya memasak di atas dalihan natolu terkadang tidak rata karena batu penyangga yang tidak sejajar. Agar sejajar maka digunakanlah benda lain untuk mengganjal. Dalam bahasa sehari-harinya kebanyakan orang Batak Toba tambahan benda untuk mengganjal disebut Sihal-sihal.
Contoh umpasa Batak Toba yang menggunakan kata Dalihan Natolu : “Ompunta naparjolo martungkot sialagundi. Adat napinungka ni naparjolo sipaihut-ihut on ni na parpudi. Umpasa itu sangat relevan dengan falsafah dalihan natolu paopat sihal-sihal sebagai sumber hukum adat Batak.”
Apakah yang disebut dengan dalihan natolu paopat sihal-sihal itu? dari umpasa di atas, dapat disebutkan bahwa dalihan natolu itu diuraikan sebagai berikut :
Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru. Angka na so somba marhula-hula siraraonma gadongna, molo so Manat mardongan tubu, natajom ma adopanna, jala molo so elek marboru, andurabionma tarusanna.
dalihan natolu
dalihan natolu falsafah orang batak toba

Berikut penjabaran singkat tentang makna filsafah Dalihan Natolu dalam kehidupan Batak Toba serta contoh penerapan bersosial dalam adat Batak Toba.
1. Somba marhula-hula
Hula-hula dalam adat Batak adalah keluarga laki-laki dari pihak istri atau ibu, yang lazim disebut tunggane oleh suami dan tulang oleh anak. Dalam adat Batak yang paternalistik, yang melakukan peminangan adalah pihak lelaki, sehingga apabila perempuan sering datang ke rumah laki-laki yang bukan saudaranya, disebut bagot tumandangi sige. (artinya, dalam budaya Batak tuak merupakan minuman khas. Tuak diambil dari pohon Bagot (enau). Sumber tuak di pohon Bagot berada pada mayang muda yang di agat. Untuk sampai di mayang diperlukan tangga bambu yang disebut Sige. Sige dibawa oleh orang yang mau mengambil tuak (maragat). Itulah sebabnya, Bagot tidak bisa bergerak, yang datang adalah sige. Sehingga, perempuan yang mendatangi rumah laki-laki dianggap menyalahi adat.
Pihak perempuan pantas dihormati, karena mau memberikan putrinya sebagai istri yang memberi keturunan kepada satu-satu marga. Penghormatan itu tidak hanya diberikan pada tingkat ibu, tetapi sampai kepada tingkat ompung dan seterusnya.
Hula-hula dalam adat Batak akan lebih kelihatan dalam upacara Saurmatua (meninggal setelah semua anak berkeluarga dan mempunyai cucu). Biasanya akan dipanggil satu-persatu, antara lain : Bonaniari, Bonatulang, Tulangrorobot, Tulang, Tunggane, dengan sebutan hula-hula.
Disebutkan, Naso somba marhula-hula, siraraon ma gadong na. Gadong dalam masyarakat Batak dianggap salah satu makanan pokok pengganti nasi, khususnya sebagai sarapan pagi atau bekal/makan selingan waktu kerja (tugo).
Siraraon adalah kondisi ubi jalar (gadong) yang rasanya hambar. Seakan-akan busuk dan isi nya berair. Pernyataan itu mengandung makna, pihak yang tidak menghormati hula-hula akan menemui kesulitan mencari nafkah.
Dalam adat Batak, pihak borulah yang menghormati hula-hula. Di dalam satu wilayah yang dikuasai hula-hula, tanah adat selalu dikuasai oleh hula-hula. Sehingga boru yang tinggal di kampung hula-hulanya akan kesulitan mencari nafkah apabila tidak menghormati hula-hulanya. Misalnya, tanah adat tidak akan diberikan untuk diolah boru yang tidak menghormati hula-hula (baca elek marboru).
2. Manat Mardongan Tubu.
Dongan tubu dalam adat Batak adalah kelompok masyarakat dalam satu rumpun marga. Rumpun marga suku Batak mencapai ratusan marga induk. Silsilah marga-marga Batak hanya diisi oleh satu marga. Namun dalam perkembangannya, marga bisa memecah diri menurut peringkat yang dianggap perlu, walaupun dalam kegiatan adat menyatukan diri. Misalnya: Si Raja Guru Mangaloksa menjadi Hutabarat, Hutagalung, Panggabean, dan Hutatoruan (Tobing dan Hutapea). Atau Toga Sihombing yakni Lumbantoruan, Silaban, Nababan dan Hutasoit.
Dongan Tubu dalam adat batak selalu dimulai dari tingkat pelaksanaan adat bagi tuan rumah atau yang disebut Suhut. Kalau marga A mempunyai upacara adat, yang menjadi pelaksana dalam adat adalah seluruh marga A yang kalau ditarik silsilah ke bawah, belum saling kimpoi.
Gambaran dongan tubu adalah sosok abang dan adik. Secara psikologis dalam kehidupan sehari-hari hubungan antara abang dan adik sangat erat. Namun satu saat hubungan itu akan renggang, bahkan dapat menimbulkan perkelahian. seperti umpama “Angka naso manat mardongan tubu, na tajom ma adopanna’. Ungkapan itu mengingatkan, na mardongan tubu (yang semarga) potensil pada suatu pertikaian. Pertikaian yang sering berakhir dengan adu fisik.
Dalam adat Batak, ada istilah panombol atau parhata yang menetapkan perwakilan suhut (tuan rumah) dalam adat yang dilaksanakan. Itulah sebabnya, untuk merencanakan suatu adat (pesta kimpoi atau kematian) namardongan tubu selalu membicarakannya terlebih dahulu. Hal itu berguna untuk menghindarkan kesalahan-kesalahan dalam pelaksanaan adat. Umumnya, Panombol atau parhata diambil setingkat di bawah dan/atau setingkat di atas marga yang bersangkutan.
3. Elek Marboru
Boru ialah kelompok orang dari saudara perempuan kita, dan pihak marga suaminya atau keluarga perempuan dari marga kita. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar istilah elek marboru yang artinya agar saling mengasihi supaya mendapat berkat(pasu-pasu). Istilah boru dalam adat batak tidak memandang status, jabatan, kekayaan oleh sebab itu mungkin saja seorang pejabat harus sibuk dalam suatu pesta adat batak karena posisinya saat itu sebagai boru.
Pada hakikatnya setiap laki-laki dalam adat batak mempunyai 3 status yang berbeda pada tempat atau adat yg diselenggarakan misalnya: waktu anak dari saudara perempuannya menikah maka posisinya sebagai Hula-hula, dan sebaliknya jika marga dari istrinya mengadakan pesta adat, maka posisinya sebagai boru dan sebagai dongan tubu saat teman semarganya melakukan pesta.

Umpasa/ Umpama/ Falsafah Batak


" Torop do bittang di langit, si gara ni api sada do
Torop do si boru nauli, tinodo ni rohakku holan ho do".
(Banyak bintang di langit, hanya satu yang paling terang,
Banyak gadis yang cantik, pujaan hatiku cuma dikau seorang)

FALSAFAH
i. Dijolo raja sieahan, dipudi raja sipaimaon
(Hormatan do natua-tua dohot angka raja).
ii. Sada silompa gadong dua silompa ubi,
Sada pe namanghatahon Sudema dapotan Uli.
iii. Pitu batu martindi sada do sitaon nadokdok
(Unang maharaphu tu dongan).
iv. Jujur do mula ni bada, bolus do mula ni dame
(Unang sai jujur-jujuri salani dongan, alai bolushon ma).
v. Siboru buas siboru Bakkara, molo dung puas sae soada mara
(Dame ma).
vi. Sungkunon poda natua-tua, sungkunon gogo naumposo
(Bertanggung-jawab).

UMPASA NI NAPOSO BULUNG.(Buat orang-orang muda)
i. Jolo tiniktik sanggar laho bahenon huru-huruan,
Jolo sinukkun marga asa binoto partuturan.
ii. Tudia ma luluon da goreng-goreng bahen soban,
Tudia ma luluon da boru Tobing bahen dongan.
iii. Tudia ma luluon da dakka-dakka bahen soban,
Tudia ma luluon da boru Sinaga bahen dongan.
iv. Manuk ni pealangge hotek-hotek laho marpira
Sirang na mar ale-ale, lobianan matean ina.
v. Silaklak ni dandorung tu dakka ni sila-sila,
Ndang iba jumonok-jonok tu naso oroan niba.
vi. Metmet dope sikkoru da nungga dihandang-handangi,
Metmet dope si boru da nungga ditandang-tandangi.
vii. Torop do bittang di langit, si gara ni api sada do
Torop do si boru nauli, tinodo ni rohakku holoan ho do
viii. Rabba na poso, ndang piga tubuan lata
Hami na poso, ndang piga na umboto hata

UMPASA MANJALO TINTIN MARANGKUP.(Untuk pasangan saat tukar cincin)
i. Bulung namartampuk, bulung ni simarlasuna,
Nunga hujalo hami tintin marangkup,
Dohonon ma hata pasu-pasuna
ii. Hot pe jabu i, tong doi margulang-gulang
Sian dia pe mangalap boru bere i, tong doi boru ni Tulang.
iii. Sai tong doi lubang nangpe dihukkupi rere,
Sai tong doi boru ni Tulang, manang boru ni ise pei dialap bere.
iv. Amak do rere, dakka do dupang,
Anak do bere, Amang do Tulang.
v. Asing do huta Hullang, asing muse do huta Gunung Tua,
Asing do molo tulang, asing muse do molo gabe dung simatua.

UMPASA TU NA BARU MARBAGAS (Untuk pasangan yang baru menikah)
i. Dakka ni arirang, peak di tonga onan,
Badan muna naso jadi sirang, tondi mu marsigomgoman
ii. Giring-giring ma tu gosta-gosta, tu boras ni sikkoru,
Sai tibu ma hamu mangiring-iring, huhut mangompa-ompa anak dohot boru.
iii. Rimbur ni Pakkat tu rimbur ni Hotang,
Sai tudia pe hamu mangalakka, sai tusima hamu dapot pansamotan.
iv. Dekke ni sale-sale, dengke ni Simamora,
Tamba ni nagabe, sai tibu ma hamu mamora.
v. Sahat-sahat ni solu, sahat ma tu labuan,
Sahat ma hamu leleng mangolu, jala sai di dongani Tuhan.
vi. Sahat solu, sahat di parbinsar ni ari,
Leleng ma hamu mangolu jala di iring-iring Tuhan ganup ari.
vii. Mangula ma pangula, dipasae duhut-duhut
Molo burju marhula-hula, dipadao mara marsundut-sundut
viii. Ruma ijuk tu ruma gorga,
Sai tubu ma anakmuna na bisuk dohot borumuna na lambok marroha
ix. Anian ma pagabe tumundalhon sitodoan,
Arimu ma gabe molo marsipaolo-oloan.
x. Gadu-gadu ni Silindung, tu gadu-gadu ni Sipoholon,
Sai tubu ma anakmuna 17 dohot borumuna 16.
xi. Andor hadukka ma patogu-togu lombu,
Sai sarimatua ma hamu sahat tu na patogu-togu pahoppu.

UMPASA MANGAMPU
Bulung ni Taen tu bulung ni Tulan
Ba molo tarbahen, sai topot hamu hami sahali sabulan,
Molo so boi bulung ni tulan, pinomat bulung ni salaon
Ba molo so boi sahali sabulan, pinomat sahali sataon.
Ni durung si Tuma laos dapot Pora-pora
Molo mamasu-masu hula-hula mangido sian Tuhan,
Napogos hian iba, boi do gabe mamora.
Songgop si Ruba-ruba tu dakka ni Hapadan,
Angka pasu-pasu na ni lehon muna,
Sai dijangkon tondi ma dohot badan.
Mardakka Jabi-jabi, marbulung ia si Tulan
Angka pasu-pasu na pinasahat muna,
Sai sude mai dipasaut Tuhan.
Naung sampulu sada, jumadi sampulu tolu,
Angka pasu-pasu pinasahat muna,
Sai anggiatma padenggan ngolu-ngolu.
Naung sapulu pitu, jumadi sapulu ualu,
Angka pasu-pasu pinasat muna hula-hula nami,
Diampu hami ma di tonga jabu.
Turtu ninna anduhur, tio ninna lote,
Angka pasu-pasu pinasahat muna,
Sai unang ma muba, unang mose.
Habang pidong sibigo, paihut-ihut bulan,
Saluhut angka na tapangido, sai tibu ma dipasaut Tuhan.
Obuk do jambulan, nidandan ni boru Samara
Pasu-pasu na mardongan tangiang sian hula-hula,
Mambahen marsundut-sundut soada mara.
Tinapu bulung nisabi, baen lompan ni pangula
Sahat ma pasu-pasu na nilehon muna i tu hami,
Sai horas ma nang hamu hula-hula.
Suman tu aek natio do hamu, riong-riong di pinggan pasu,
Hula-hula nabasa do hamu, na girgir mamasu-masu.

AKKA UMPASA NA ASING
i. Martahuak ma manuk di bungkulan ni ruma,
Horas ma hula-hulana,songoni nang akka boruna.
ii. Simbora ma pulguk, pulguk di lage-lage,
Sai mora ma hita luhut, huhut horas jala gabe.
iii. Hariara madungdung, pilo-pilo na maragar,
Sai tading ma na lungun, ro ma na jagar.
iv. Sinuan bulu sibahen na las,
Tabahen uhum mambahen na horas.
v. Eme ni Simbolon parasaran ni si borok,
Sai horas-horas ma hita on laos Debata ma na marorot.
vi. Sititik ma sigompa, golang-golang pangarahutna,
Tung so sadia pe naeng tarpatupa, sai anggiat ma godang pinasuna.
vii. Pinasa ni Siantar godang rambu-rambuna,
Tung otik pe hatakki, sai godang ma pinasuna.
viii. Tuat si puti, nakkok sideak,
Ia i na ummuli, ima ta pareak.
ix. Aek godang tu aek laut,
Dos ni roha sibaen na saut.
x. Napuran tano-tano rangging marsiranggongan,
Badan ta i padao-dao, tondita i marsigomgoman
xi. Marmutik tabu-tabu mandompakhon mataniari,
Sai hot ma di hamu akka pasu-pasu, laho marhajophon akka na sinari.
xii. Bona ni pinasa, hasakkotan ni jomuran,
Tung aha pe dijama hamu, sai tong ma dalan ni pasu-pasu.
xiii. Mandurung di aek Sihoru-horu, manjala di aek Sigura-gura
Udur ma hamu jala leleng mangolu, hipas matua sonang sora mahua.
xiv. Dolok ni Simalungun, tu dolok ni Simamora
Salpu ma sian hamu na lungun, sai hatop ma ro si las ni roha.
Asa, danggur-dangur barat ma tongon tu duhut-duhut
Nunga butong hita mangan, mahap marlompan juhut,
Ba haroan ni ulaonta on, dipaboa amanta suhut.
Atau:
Ba, dia ma langkatna, dia unokna
Dia ma hatana, dia nidokna,
Haroan ni ulaonta on,
Tung tangkas ma dipaboa amanta suhut

Alusna mamboan sipanganon :
Bagot na marhalto ma na tubu di robean
Ba horas ma hamu na manganhon, tu gandana ma di hami na mangalean
Ekstra:
Taringot di sipanganon na hupasahat hami rajanami
Molo tung na mangholit hami, sai ganda ma na hinolit tu joloansa on

Dan ditutup dengan:
Anggo sintuhu ni sipanganon masak na hupasahat hami
Ba, panggabean, parhorasan do rajanami (tu hula-hula); tu hamu raja ni haha-anggi

(bila makanan itu untuk kawula yang berkakak-adik)
Sambungan sapaan-pertanyaan dari si penerima makanan:
Dimulai lagi dengan kata basi-basi, dan disambung dengan:

Antong raja ni ……….; Asa tangkas ma uju Purba, tangkasan uju Angkola
Asa tangkas hita maduma, tangkasan hita mamora.
Jadi, asa songon hata ni natua-tua do dohonon:
Siangkup ninna, songon na hundul, jala siudur songon na mardalan
Ba, angkup ni angka na uli na denggan, tung tungkas ma dipaboa amanta suhut,
Asa adong sibegeon ni pinggol, sipeopon ni roha.
Jawaban penutup:
I ma tutu rajanami, nunga apala dipadua hali raja i manungkun
Ba saonari, tung tangkas ma antong paboaonnami:
Anggo siangkupna dohot sidonganna rajanami, ima:……..
(dia ceritakan secara singkat dalam bentuk prosa, maksud tujuan acara adat itu)
2. Umpama dalam berbagai perhelatan, yang memintakan berkat:
- Perkawinan (kepada penganten)— Biasanya umpama ini harus disampaikan dengan jumlah ganjil; mis: satu, tiga, lima, tujuh dsb.
Di zaman modern ini di perantauan (karena soal faktor keterbatasan waktu), terutama bagi generasi muda, boleh saja mengucapkan hanya satu saja. Kalau mampu menghafalnya, boleh sampai tiga umpama:
Contoh:
  • Bintang na rimiris ma, tu ombun na sumorop Asa anak pe antong di hamu riris, boru pe antong torop.
  • Tubuan laklak ma, tubuan sikkoru di dolok ni Purbatua Sai tubuan anak, tubuan boru ma hamu, donganmu sarimatua.
  • Pir ma pongki, bahul-bahul pansalongan Sai pir ma tondimuna, jala tongtong hamu masihaholongan.
  • Pinantik hujur tu jolo ni tapian ,Tusi hamu mangalangka, tusi ma dapot parsaulian.
  • Pangkat-hotang.Tu dia hamu mangalangka, tusi ma dapot pangomoan
  • Tangki jala hualang, garinggang jala garege
  • Tubuan anak ma hamu, partahi jala ulubalang
  • Tubuan boru par-mas jala pareme.
  • Tubu ma hariara, di tonga-tonga ni huta
  • Sai tubu ma anak dohot borumu
  • Na mora jala na martua

Kalau “umpama” diucapkan (disampaikan) hanya satu (single) di antara umpama di atas, tak tak perlu ada umpama penutup. Tapi kalau menyampaikan dua atau empat, atau bahkan enam, sebaiknya ditutup dengan umpama pembuat jumlah-ganjil berikut:
Asa, sahat-sahat ni solu ma, sahat tu bontean
Sai sahat ma hita on sude mangolu,
Sahat ma tu parhorasan, sahat tu panggabean.

Bila kita harus menyampaikan
ULOS PANSAMOT
(kepada orangtua penganten laki-laki) atau kepada besan kita: beberapa umpama yang relevan antara lain adalah:
  1. Andor halukka ma patogu-togu lombu, Saur ma hamu matua, patogu-togu pahompu
  2. Eme sitamba-tua ma parlinggoman ni siborok, Tuhanta Debata do silehon tua, sude ma hita on diparorot
  3. Tubu ma dingin-dingin di tonga-tonga ni huta, Saur ma hita madingin, tumangkas hita mamora

Umpama di atas, dapat pula dipakai untuk memberikan kata berkat/pasu-pasu kepada pihak lain, termasuk dalam bentuk acara “selamatan” lain-lain; dan tentu saja sebaiknya ditutup dengan ”Sahat-sahat ni solu……dst.”.
Tuntunan dari pihak Hula-hula kepada pihak boru, karena menerima permintaan bimbingan (paniroion) terhadap pembicaraan pihak-suhut dengan pihak besan-nya:
Lebih dahulu mengucapkan kata basa-basi tuntunan secara “prosa”, dan diakhiri dengan puisi (umpama) berikut:

Asa balintang ma pagabe, tumundalhon sitadoan; Arimuna ma gabe, ai nunga hamu masipaolo-oloan.

Mangampu (mengucapkan kata sambutan terimakasih) terhadap kata-kata ucapan syukur dari pihak hula-hula, atau pihak lain untuk kita:
Setelah mengucapkan kata-kata mangampu secara “prosa”, maka diakahiri dengan puisi (umpama) berikut:
  1. Asa turtu ma ninna anduhur, tio ninna lote; Sude hata na denggan, hata nauli na pinasahatmuna i sai unang ma muba, unang ma mose.
  2. Tingko ma inggir-inggir, bulungna i rata-rata; Di angka pasu-pasu na nipinasahatmuna, pasauthon ma Tuhanta Debata
  3. Asa naung sampulu pitu ma, jumadi sampulu-alu; Sude hata na uli na pinsahatmunai, ampuonnami ma i martonga ni jabu.

Umpama oleh Raja-parhata dari pihak parboru dalam hal mengucapkan dan akan membagi uang “ingot-ingot” (setelah menerima porsi dari pihak paranak untuk digabungkan):
Nunga jumpang tali-aksa ihot ni ogung oloan
Nunga sidung sude hata, ala tangkas do hita masipaolo-oloan
Bulung ni losa ma tu bulung ni indot
Bulung motung mardua rupa,
Sude na tahatai i ingkon taingot
Asa unang adong hita na lupa ….; Ingot-ingot; ingot-ingot; ingot-ingot.

Umpana dalam waktu menutup pembicaraan dalam pesta-kawin: dengan cara membagi uang “Olop-olop,” oleh Raja-parhata fihak parboru, setelah menerima porsi uang olop-olop dari fihak paranak untuk digabungkan:
Asa binanga ni Sihombing ma binongkak ni Tarabunga
Tu sanggar ma amporik, to lombang ma satua
Sinur ma na pinahan, jala gabe na niula
Simbur magodang angka dakdanak songon ulluson pura-pura
Hipas angka na magodang tu pengpengna laho matua
Horas pardalan-dalan, mangomo nang partiga-tiga
Manumpak ma Tuhanta dihorasi hita saluhutna,…
Asa aek siuruk-uruk, ma tu silanlan aek Toba
Na metmet soadong marungut-ungut, na magodang sude marlas ni roha…
Olop-olop; olop-olop; olop-olop.
DUKA CITA
Hanya dalam keadaan duka-cita yang mendalam, karena kematian di luar bentuk “saur-matua” (terkadang juga di luar “sarimatua”):
Setelah mengucapkan kata-kata penghiburan dalam bentuk prosa; maka ditutup dengan puisi (umpama):
Asa songon hata ni umpama ma dohononku:
Bagot na madungdung ma, tu pilo-pilo na marajar
Sai salpu ma angka na lungun, sai ro ma angka na jagar.
Atau:
Hotang binebebe, hotang pinulos-pulos
Unang hamu mandele, ai godang do tudos-tudos.



FALSAFAH.
1. Dijolo raja sieahan, dipudi raja sipaimaon
(Hormatan do natua-tua dohot angka raja).
2. Sada silompa gadong dua silompa ubi,
(Sada pe namanghatahon Sudema dapotan uli.)
3. Pitu batu martindi sada do sitaon nadokdok
(Unang maharaphu tu dongan).
4. Jujur do mula ni bada, bolus do mula ni dame
(Unang sai jujur-jujuri salani dongan, alai bolushon ma).
5. Siboru buas siboru Bakkara, molo dung puas sae soada mara
(Dame ma).
6. Sungkunon poda natua-tua, sungkunon gogo naumposo
(Bertanggung-jawab).
UMPASA NI NAPOSO BULUNG. (Buat orang-orang muda)- Jolo tiniktik sanggar laho bahenon huru-huruan, Jolo sinukkun marga asa binoto partuturan.
- Tudia ma luluon da goreng-goreng bahen soban, tudia ma luluon daboruTobing bahen dongan.
- Tudia ma luluon da dakka-dakka bahen soban, Tudia ma luluon da boru Sinaga bahen dongan.
- Manuk ni pealangge hotek-hotek laho marpira, Sirang na mar ale-ale, lobianan matean ina.
- Silaklak ni dandorung tu dakka ni sila-sila, Ndang iba jumonok-jonok tu naso oroan niba.
- Rabba na poso, ndang piga tubuan lata, Hami na poso, ndang piga na umboto hata.

UMPASA MANJALO TINTIN MARANGKUP.
(Untuk pasangan saat tukar cincin)Bulung namartampuk, bulung ni simarlasuna, Nunga hujalo hami tintin marangkup, dohonon ma hata pasu-pasuna :Hot pe jabu i, tong doi margulang-gulang, sian dia pe mangalap boru bere i, tong doi boru ni Tulang.

2. Sai tong doi lubang nangpe dihukkupi rere, sai tong doi boru ni Tulang, manang boru ni ise pei dialap bere.
3. Amak do rere, dakka do dupang, Anak do bere, Amang do Tulang.
4. Asing do huta Hullang, asing muse do huta Gunung Tua, Asing do molo tulang, asing muse do molo gabe dung simatua.


UMPASA TU NA BARU MARBAGAS
(Untuk pasangan yang baru menikah)
1. Dakka ni arirang, peak di tonga onan, badan muna naso jadi sirang, tondi mu marsigomgoman.
2. Giring-giring ma tu gosta-gosta, tu boras ni sikkoru, sai tibu ma hamu mangiring-iring, huhut mangompa-ompa anak dohot boru.
3. Rimbur ni Pakkat tu rimbur ni Hotang, sai tudia pe hamu mangalakka, sai tusima hamu dapot pansamotan.
4. Dekke ni sale-sale, dengke ni Simamora, tamba ni nagabe, sai tibu ma hamu mamora.
5. Sahat-sahat ni solu, sahat ma tu labuan, sahat ma hamu leleng mangolu, jala sai di dongani Tuhan.
6. Sahat solu, sahat di parbinsar ni ari, leleng ma hamu mangolu jala di iring-iring Tuhan ganup ari.
7. Mangula ma pangula, dipasae duhut-duhut, molo burju marhula-hula, dipadao mara marsundut-sundut.
8. Ruma ijuk tu ruma gorga, sai tubu ma anakmuna na bisuk dohot borumuna na lambok marroha
9. Anian ma pagabe tumundalhon sitodoan, arimu ma gabe molo marsipaolo-oloan.
10. Gadu-gadu ni Silindung, tu gadu-gadu ni Sipoholon, Sai tubu ma anakmuna 17 dohot borumuna 16.
11. Andor hadukka ma patogu-togu lombu, sai sarimatua ma hamu sahat tu na patogu-togu pahoppu.
UMPASA MANGAMPU
Bulung ni Taen tu bulung ni Tulan
Ba molo tarbahen, sai topot hamu hami sahali sabulan,
Molo so boi bulung ni tulan, pinomat bulung ni salaon
Ba molo so boi sahali sabulan, pinomat sahali sataon.

Ni durung si Tuma laos dapot Pora-pora
Molo mamasu-masu hula-hula mangido sian Tuhan,
Napogos hian iba, boi do gabe mamora.

Songgop si Ruba-ruba tu dakka ni Hapadan,
Angka pasu-pasu na ni lehon muna,
Sai dijangkon tondi ma dohot badan.

Mardakka Jabi-jabi, marbulung ia si Tulan
Angka pasu-pasu na pinasahat muna,
Sai sude mai dipasaut Tuhan.

Naung sampulu sada, jumadi sampulu tolu,
Angka pasu-pasu pinasahat muna,
Sai anggiatma padenggan ngolu-ngolu.

Naung sapulu pitu, jumadi sapulu ualu,
Angka pasu-pasu pinasat muna hula-hula nami,
Diampu hami ma di tonga jabu.

Turtu ninna anduhur, tio ninna lote,
Angka pasu-pasu pinasahat muna,
Sai unang ma muba, unang mose.

Habang pidong sibigo, paihut-ihut bulan,
Saluhut angka na tapangido, sai tibu ma dipasaut Tuhan.


Tinapu bulung nisabi, baen lompan ni pangula
Sahat ma pasu-pasu na nilehon muna i tu hami,
Sai horas ma nang hamu hula-hula.

Suman tu aek natio do hamu, riong-riong di pinggan pasu,
Hula-hula nabasa do hamu, na girgir mamasu-masu.

AKKA UMPASA NA ASING
1. Martahuak ma manuk di bungkulan ni ruma,
Horas ma hula-hulana,songoni nang akka boruna.
2. Simbora ma pulguk, pulguk di lage-lage,
Sai mora ma hita luhut, huhut horas jala gabe.
3. Hariara madungdung, pilo-pilo na maragar,
Sai tading ma na lungun, ro ma na jagar.
4. Sinuan bulu sibahen na las,
Tabahen uhum mambahen na horas.
5. Eme ni Simbolon parasaran ni si borok,
Sai horas-horas ma hita on laos Debata ma na marorot.
6. Sititik ma sigompa, golang-golang pangarahutna,
Tung so sadia pe naeng tarpatupa, sai anggiat ma godang pinasuna.
7. Pinasa ni Siantar godang rambu-rambuna,
Tung otik pe hatakki, sai godang ma pinasuna.
8. Tuat si puti, nakkok sideak,
Ia i na ummuli, ima ta pareak.
9. Aek godang tu aek laut,
Dos ni roha sibaen na saut.
10. Napuran tano-tano rangging marsiranggongan,
Badan ta i padao-dao, tondita i marsigomgoman
11. Marmutik tabu-tabu mandompakhon mataniari,
Sai hot ma di hamu akka pasu-pasu, laho marhajophon akka na sinari.
12. Bona ni pinasa, hasakkotan ni jomuran,
Tung aha pe dijama hamu, sai tong ma dalan ni pasu-pasu.
13. Mandurung di aek Sihoru-horu, manjala di aek Sigura-gura
Udur ma hamu jala leleng mangolu, hipas matua sonang sora mahua.
14. Dolok ni Simalungun, tu dolok ni Simamora
Salpu ma sian hamu na lungun, sai hatop ma ro si las ni roha.

Falsafah, Umpasa, Umpama Batak

Falsafah Batak
Dijolo raja sieahan, dipudi raja sipaimaon
(Hormatan do natua-tua dohot angka raja).

Sada silompa gadong dua silompa ubi,
Sada pe namanghatahon Sudema dapotan Uli.

Pitu batu martindi sada do sitaon nadokdok
(Unang maharaphu tu dongan).

Jujur do mula ni bada, bolus do mula ni dame
(Unang sai jujur-jujuri salani dongan, alai bolushon ma).

Siboru buas siboru Bakkara, molo dung puas sae soada mara
(Dame ma).

Sungkunon poda natua-tua, sungkunon gogo naumposo
(Bertanggung-jawab).

UMPASA NI NAPOSO BULUNG. (Buat orang-orang muda)
Jolo tiniktik sanggar laho bahenon huru-huruan,
Jolo sinukkun marga asa binoto partuturan.

Tudia ma luluon da goreng-goreng bahen soban,
Tudia ma luluon da boru Tobing bahen dongan.

Tudia ma luluon da dakka-dakka bahen soban,
Tudia ma luluon da boru Sinaga bahen dongan.

Manuk ni pealangge hotek-hotek laho marpira
Sirang na mar ale-ale, lobianan matean ina.

Silaklak ni dandorung tu dakka ni sila-sila,
Ndang iba jumonok-jonok tu naso oroan niba.

Metmet dope sikkoru da nungga dihandang-handangi,
Metmet dope si boru da nungga ditandang-tandangi.

Torop do bittang di langit, si gara ni api sada do
Torop do si boru nauli, tinodo ni rohakku holoan ho do

Rabba na poso, ndang piga tubuan lata
Hami na poso, ndang piga na umboto hata

UMPASA MANJALO TINTIN MARANGKUP. (Untuk pasangan saat tukar cincin)
Bulung namartampuk, bulung ni simarlasuna,
Nunga hujalo hami tintin marangkup,
Dohonon ma hata pasu-pasuna.

Hot pe jabu i, tong doi margulang-gulang
Sian dia pe mangalap boru bere i, tong doi boru ni Tulang.

Sai tong doi lubang nangpe dihukkupi rere,
Sai tong doi boru ni Tulang, manang boru ni ise pei dialap bere.

Amak do rere, dakka do dupang,
Anak do bere, Amang do Tulang.

Asing do huta Hullang, asing muse do huta Gunung Tua,
Asing do molo tulang, asing muse do molo gabe dung simatua.

UMPASA TU NA BARU MARBAGAS. (Untuk pasangan yang baru menikah)
Dakka ni arirang, peak di tonga onan,
Badan muna naso jadi sirang, tondi mu marsigomgoman.

Giring-giring ma tu gosta-gosta, tu boras ni sikkoru,
Sai tibu ma hamu mangiring-iring, huhut mangompa-ompa anak dohot boru.

Rimbur ni Pakkat tu rimbur ni Hotang,
Sai tudia pe hamu mangalakka, sai tusima hamu dapot pansamotan.

Dekke ni sale-sale, dengke ni Simamora,
Tamba ni nagabe, sai tibu ma hamu mamora.

Sahat-sahat ni solu, sahat ma tu labuan,
Sahat ma hamu leleng mangolu, jala sai di dongani Tuhan.

Sahat solu, sahat di parbinsar ni ari,
Leleng ma hamu mangolu jala di iring-iring Tuhan ganup ari.

Mangula ma pangula, dipasae duhut-duhut
Molo burju marhula-hula, dipadao mara marsundut-sundut.

Ruma ijuk tu ruma gorga,
Sai tubu ma anakmuna na bisuk dohot borumuna na lambok marroha.

Anian ma pagabe tumundalhon sitodoan,
Arimu ma gabe molo marsipaolo-oloan.

Gadu-gadu ni Silindung, tu gadu-gadu ni Sipoholon,
Sai tubu ma anakmuna 17 dohot borumuna 16.

Andor hadukka ma patogu-togu lombu,
Sai sarimatua ma hamu sahat tu na patogu-togu pahoppu.

UMPASA MANGAMPU
Bulung ni Taen tu bulung ni Tulan
Ba molo tarbahen, sai topot hamu hami sahali sabulan,
Molo so boi bulung ni tulan, pinomat bulung ni salaon,
Ba molo so boi sahali sabulan, pinomat sahali sataon.

Ni durung si Tuma laos dapot Pora-pora.
Molo mamasu-masu hula-hula mangido sian Tuhan,
Napogos hian iba, boi do gabe mamora.

Songgop si Ruba-ruba tu dakka ni Hapadan,
Angka pasu-pasu na ni lehon muna,
Sai dijangkon tondi ma dohot badan.

Mardakka Jabi-jabi, marbulung ia si Tulan
Angka pasu-pasu na pinasahat muna,
Sai sude mai dipasaut Tuhan.

Naung sampulu sada, jumadi sampulu tolu,
Angka pasu-pasu pinasahat muna,
Sai anggiatma padenggan ngolu-ngolu.

Naung sapulu pitu, jumadi sapulu ualu,
Angka pasu-pasu pinasat muna hula-hula nami,
Diampu hami ma di tonga jabu.

Turtu ninna anduhur, tio ninna lote,
Angka pasu-pasu pinasahat muna,
Sai unang ma muba, unang mose.

Habang pidong sibigo, paihut-ihut bulan,
Saluhut angka na tapangido, sai tibu ma dipasaut Tuhan.

Obuk do jambulan, nidandan ni boru Samara
Pasu-pasu na mardongan tangiang sian hula-hula,
Mambahen marsundut-sundut soada mara.

Tinapu bulung nisabi, baen lompan ni pangula
Sahat ma pasu-pasu na nilehon muna i tu hami,
Sai horas ma nang hamu hula-hula.

Suman tu aek natio do hamu, riong-riong di pinggan pasu,
Hula-hula nabasa do hamu, na girgir mamasu-masu.

AKKA UMPASA NA ASING
Martahuak ma manuk di bungkulan ni ruma,
Horas ma hula-hulana,songoni nang akka boruna.

Simbora ma pulguk, pulguk di lage-lage,
Sai mora ma hita luhut, huhut horas jala gabe.

Hariara madungdung, pilo-pilo na maragar,
Sai tading ma na lungun, ro ma na jagar.

Sinuan bulu sibahen na las,
Tabahen uhum mambahen na horas.

Eme ni Simbolon parasaran ni si borok,
Sai horas-horas ma hita on laos Debata ma na marorot.

Sititik ma sigompa, golang-golang pangarahutna,
Tung so sadia pe naeng tarpatupa, sai anggiat ma godang pinasuna.

Pinasa ni Siantar godang rambu-rambuna,
Tung otik pe hatakki, sai godang ma pinasuna.

Tuat si puti, nakkok sideak,
Ia i na ummuli, ima ta pareak.

Aek godang tu aek laut,
Dos ni roha sibaen na saut.

Napuran tano-tano rangging marsiranggongan,
Badan ta i padao-dao, tondita i marsigomgoman.

Marmutik tabu-tabu mandompakhon mataniari,
Sai hot ma di hamu akka pasu-pasu, laho marhajophon akka na sinari.

Bona ni pinasa, hasakkotan ni jomuran,
Tung aha pe dijama hamu, sai tong ma dalan ni pasu-pasu.

Mandurung di aek Sihoru-horu, manjala di aek Sigura-gura,
Udur ma hamu jala leleng mangolu, hipas matua sonang sora mahua.

Dolok ni Simalungun, tu dolok ni Simamora
Salpu ma sian hamu na lungun, sai hatop ma ro si las ni roha.

Manat unang tartuktuk, dadap unang tarrobung
Artinya:
Sebelum melakukan sesuatu lebih baik di teliti dulu situasi apa yang mau dilakukan
Jolo nidodo asa hinonong
Artinya:
Sebelum melakukan sesuatu lebih baik di teliti dulu situasi apa yang mau dilakukan
Jolo tinaha garung niba, niantan sulangat niba
Artinya:
Sebelum melakukan sesuatu lebih baik kalau kita menyadari kemampuan diri sendiri.
Aek godang tu aek laut, dos ni roha sibahen na saut
Artinya:
Musyawarah untuk mufakat
Balintang ma pagabe tumandangkon sitandoan
Arinta ma gabe molo marsipaoloan
Artinya:
Kita akan mendapatkan keberhasilan jika seia sekata
Amporik marlipik, onggang marhabang,
Gabe parboli na otik laos gabe do parboli na godang
Artinya:

Namandanggurhon tu dolok do molo basa namarhula-hula
Artinya:

Janji urat ni eme tu laklak ni simarlasuna, Adat na denggan na so ra sega, uhum na uli na so ra muba i, asa manumpak ma Tuhanta i sinur ma pinahan gabe na niula jala horas jolma.
Martumbur ma baringin, mardangka ma hariara, matorop ma hamu maribur, matangkang ma juara.
Sai marrongkap mai songon bagot, marsibar songon ambalang, jala sai masigomgoman ma tondi ni nasida tu na tama.
Dangka ni hariara ma pinangait-ngaithon, tubuma dihamu anak dohot boru, sai unang ma panahit-nahithon.
Balintang ma pagabe tumandakhon sitadoan, saut do hamu gabe asal ma tontong masipaolo-oloan.
Dangir-dangir ni batu ma hamu, pandakdahan ni simbora, Gabe do hamu jala sarimatua asal ma sai marsada ni roha.
Ai na tinapu salaon, salaon situa-tua, Denggan ma hamu masianju-anjuan asa saut gabe jala sarimatua.
Sai situbu laklak ma hamu situbu singkoru di dolok ni purbatua, sai tubuan anak ma hamu tubuan boru, donganmuna sarimatua.
Hariara na bolon bahen parlape-lapean, Sai tubu ma di hamu anak dohot boru na bolas pangunsandean.
Bagot na mandung-dung tu pilo-pilo marajar, Tading ma antong na lungun, sai roma na jagar.
Sahat-sahat ni soluma sahat tu bontean, Sahat ma hamu tu parhorasan, sahat tu panggaben.
Tuat ma na dolok martungkot sialagundi, adat ni ompunta sijolo-jolo tubu siihuttonon ni na di pidi.
Sinuan bulu sibahen nalas, Sinuan uhum sibaen na horas.
Muba dolok muba duhutna, muba luat sai adong do muba adatna.
Eme na masak di gagat ursa , ia i namasa ima di ula.
Aek godang aek laut, dos niroha sibahen nasaut
Sori manungkun sori mandapot, sai matua marpanungkun tu na nidapot.
Tangan do botohon, ujungna jari-jari, Bangko nihata si dohonon, asal ma jumolo marsatabi.
Ramba na poso na so tubuan lata, halak na poso na so umboto hata.
Tampuk ni sibaganding di dolok ni pangiringan, horas ma hamu na marhaha maranggi, sai masipairing-iringan.
Bola-bola ni tangan, sitongka i bolahononhon, bola-bola ni halak, sitongka i tangihononhon.
Tinallik randorung bontar gotana, Dos do anak dohot boru nang pe pulik margana, ai dompak marmeme anak, dompak do tong marmeme boru, andung ni anak sabulan di dalan, andung ni boru sataon.
Habang leang-leang songgop tu parapian, Bolak ni rosu angka na marpariban, sai masitopot-topotan songon pidong leang-leang.
Na niida ni mata paula so niida, na binege ni pinggol paula so ni bege.

Tolu do dalihan,
Paopat sihal-sihal,
Torop pe anakniba,
Sada do siboto sibunian.
Lapatanna: torop pe ianakhon ni natua tua na,alai holan sada do umboto sibunian ni natorasna

Dolok Martimbang,
Hatubuan ni simarhora-hora,
Di Debata na di ginjang,
Do suhat-suhat ni hita jolma.
Lapatanna: Debata na di ginjang do umboto hita jolma

Sitorop ma dangkana,
Sitorop ma bulungna,
Gabe ma hula-hulana,
Songon i ma nang boruna.
Lapatanna: Angka pangidoan sai anggiat gabe hula-hula dohot boru na.

Dapot ursa dibahen bogasna,
Dapot imbo dibahen soarana.
Lapatanna: tanda on jolma sian pangalaho na

Ngali aek diingani dengke,
Dolgi ranggas diingani bodat.
Lapatanna: manang boha pe luat i,sai sonang do pangisi na mangingani

Tampuk ni sibaganding di dolok ni pangiringan
horas ma hamu na marhaha maranggi
molo sai masipairing-iringan.
Lapatanna: sai horas do hita angka PSSSI na marhahamaranggi molo hita saling masitoguan.